Sintang- Sebanyak 50 Peserta Jambore Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) Se-Keuskupan Sintang mengunjungi Keraton Sintang dalam rangkaian kegiatan mereka. Kunjungan ini disambut hangat oleh Sultan Sintang, Raden Barrie Danu Brata, beserta kerabat keraton, Gusti Sumarman dan Berny Danu Brata. Sementara itu, rombongan peserta didampingi oleh Romo Bernardus Agus Rukmono, OMI, bersama pastor, suster, dan panitia.
Kunjungan ini bukan sekadar wisata biasa, melainkan bagian dari upaya memperkenalkan sejarah, budaya, dan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda Katolik di Sintang.
Sambutan Hangat dari Sultan Sintang
Raden Barrie Danu Brata, Sultan Sintang, menyampaikan kegembiraannya atas kedatangan peserta Jambore Sekami. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya pendidikan, etika, dan persatuan dalam keberagaman.
“Keraton Sintang ini terbuka untuk semua suku dan agama. Siapapun bisa berkunjung. Pesan saya untuk anak-anak dan remaja Katolik adalah terus bersekolah, menjaga etika, dan menatap masa depan yang lebih baik. Masa depan Kabupaten Sintang sebagian besar ada di tangan anak-anak dan remaja Katolik,” ujar Sultan.
Beliau juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah lokal. “Anak-anak harus tahu sejarah Sintang. Darah itu warisan, agama itu pilihan. Untuk umat Katolik, gereja pertama dan bersejarah adalah Gereja Katolik di Sejiram. Kami sepakat bahwa keberagaman dan toleransi harus kita jaga bersama di Kabupaten Sintang.”
Pernyataan Sultan ini semakin mempertegas komitmen Keraton Sintang dalam menjaga harmoni antarumat beragama di daerah tersebut.
Misi Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Romo Bernardus Agus Rukmono, OMI, selaku pendamping rombongan, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memperkaya wawasan peserta tentang budaya dan sejarah Sintang.

Baca Juga: Kementerian Agama Sintang Bagikan 1.000 Paket Lebaran untuk Yatim dan Difabel
“Kami berharap wawasan mereka bertambah, mereka bisa belajar sejarah dan budaya di Sintang. Kami juga ingin mereka tumbuh menjadi anak-anak dan remaja yang memiliki karakter baik dan menjunjung tinggi toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, mereka semakin memahami bahwa kita semua berbeda-beda, dan sikap toleransi semakin kuat,” jelas Romo Bernardus.
Thomas Andi, salah seorang pendamping peserta, menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan membangun hubungan baik dengan Keraton Sintang. “Kami ingin menjalin hubungan yang baik dengan pihak Keraton Sintang dan menanamkan sikap toleransi agar mereka bisa hidup berdampingan dengan penuh toleransi di tengah masyarakat.”
Pengalaman Tak Terlupakan bagi Peserta
Bagi para peserta, kunjungan ini menjadi momen berharga untuk mengenal lebih dekat warisan budaya Sintang. Theodora Elfarim, peserta asal Paroki Santo Mikhael Tanjung Baung, mengungkapkan kegembiraannya.
“Kami tadi mendengarkan penjelasan mengenai sejarah Keraton Sintang dan banyak hal lainnya tentang Kota Sintang. Kami juga sudah melihat langsung bagian dalam Keraton Sintang,” kata Theodora dengan antusias.
Pengalaman ini tidak hanya memperluas pengetahuan mereka tentang sejarah lokal, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga kebersamaan dalam keberagaman.
Keraton Sintang: Simbol Persatuan dalam Keberagaman
Keraton Sintang bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol persatuan masyarakat Sintang yang majemuk. Sejak dulu, keraton ini menjadi pusat budaya yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan.
Kunjungan Jambore Sekami ini semakin memperkuat hubungan antara umat Katolik dengan pemangku adat di Sintang. Pesan toleransi yang disampaikan Sultan dan Romo Bernardus menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk membangun masa depan yang lebih harmonis.
Kegiatan kunjungan peserta Jambore Sekami ke Keraton Sintang bukan hanya sekadar wisata edukasi, tetapi juga langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai persatuan, sejarah, dan budaya kepada generasi muda.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah lokal dan pentingnya toleransi, diharapkan para peserta dapat menjadi agen perubahan yang membawa Sintang menuju masa depan yang lebih baik—tanpa melupakan akar budaya dan kebhinekaan yang telah menjadi kekayaan daerah ini.
















